“Mas, tolong kirim lagi ya. Nanti akhir bulan saya lunasin semua.”
Kalimat itu manis di telinga. Sampai kasir telpon: saldo kas menipis, driver menunggu untuk solar, dan notifikasi bank sepi. Anda punya 180 pelanggan, 60% minta tempo. Minggu ini saja ada Rp48.000.000 yang jatuh tempo lewat 14 hari. Sales ngotot, “Kalau nggak dikirim, mereka belanja ke tempat lain.” Lalu Anda bimbang: jaga relasi, tapi arus kas megap-megap.
Kabar baiknya, piutang bisa dipegang kendalinya. Bukan dengan marah-marah, tapi dengan aturan main yang jelas, otomatis, dan rapi dicatat. Mulai dari limit kredit per pelanggan, blokir penjualan otomatis saat melewati limit/jatuh tempo, hingga SOP penagihan 7-14-30 yang semua orang di tim Anda hapal di luar kepala.
1) Tetapkan limit kredit & terms yang realistis, bukan “feeling”
Limit kredit itu pagar. Tanpa pagar, sapi tetangga pun bisa masuk. Cara menentukannya:
- Kumpulkan data 3 bulan terakhir: rata-rata pembelian bulanan per pelanggan dan ketepatan bayar (on-time rate). Contoh: Toko Sinar Jaya belanja Rp3,2 juta/bulan, 80% tepat waktu.
- Rumus awal sederhana: Limit = 1,5 × rata-rata pembelian bulanan untuk terms 30 hari. Jadi Sinar Jaya dapat limit Rp4,8 juta. Untuk pelanggan baru tanpa riwayat, batasi limit awal Rp1–2 juta dan terms Net 7–14. Naikkan bertahap setiap 2–3 siklus pembayaran lancar.
- Terms by segment (contoh):
- Segment A (on-time ≥90%): Limit 2× rata-rata, Terms Net 30.
- Segment B (on-time 70–89%): Limit 1,5×, Terms Net 14.
- Segment C (on-time <70% atau baru): Limit Rp1–2 juta, Terms Net 7 atau COD + DP 30%.
- Persyaratan dokumen untuk pelanggan tempo: KTP, NPWP (jika ada), alamat toko jelas, share lokasi, dan 2 referensi supplier. Minta kontak PIC bayar (nama + WA aktif).
- Aturan jelas: “Overdue >7 hari = hold order; >30 hari = stop kredit.” Tuliskan di form pembukaan pelanggan dan faktur.
- Review triwulanan: Naik-turunkan limit ±10–20% berdasar tren pembayaran dan omzet. Tidak ada review = limit jadi jebakan.
2) Blokir otomatis di POS/penjualan jika lewat limit atau ada invoice jatuh tempo
Jangan serahkan semuanya ke hafalan kasir. Atur sistem agar cek kredit saat simpan Sales Order/di POS:
- Trigger 1: Melewati limit. Jika outstanding + order baru > limit, status order = On Hold. Opsi rilis: bayar sebagian atau minta override supervisor (pakai PIN) maksimal toleransi 10% dari limit.
- Trigger 2: Ada invoice overdue. Jika ada tagihan lewat 7 hari, On Hold. Jika lewat 30 hari, Block total (tanpa override) sampai ada pembayaran minimal 50% dari total overdue.
- Aturan DO: Delivery Order tidak boleh terbit kalau status order On Hold/Blocked. Sales tetap bisa buat proforma untuk jaga relasi, tapi barang belum jalan.
- Contoh kasus: Pelanggan A limit Rp5 juta, outstanding Rp4,7 juta, ingin belanja Rp1,2 juta. Sistem tahan order. Kasir kasih opsi: “Bayar Rp1 juta sekarang via QRIS, atau lunasi invoice #INV-123 Rp750 ribu supaya order bisa rilis.” Jelas, tegas, tapi masih memberi jalan.
- Catat alasan override (misal: event besar pelanggan) agar bisa dievaluasi di rapat mingguan. Override yang tak tercatat = kebocoran.
3) SOP penagihan 7-14-30 yang semua orang paham
Penagihan bukan sekadar “kapan transfer, Pak?”. Buat skrip, jadwal, dan bukti tindak lanjut.
- H+0 (kirim barang): Sertakan faktur bermeterai/tanda terima, kirim PDF via WA/email ke PIC bayar, plus tautan pembayaran (QRIS/VA). Minta konfirmasi “diterima” pada hari yang sama.
- H+5–7: Reminder WA sopan, jam 09.30–11.30. Template singkat: “Selamat pagi, kami lampirkan invoice #INV-123 jatuh tempo tgl 12. Mohon konfirmasi jadwal bayar. Opsi QRIS/VA tertera.” Sertakan PDF dan ringkas aging pelanggan.
- H+14: Telepon. Target: dapat promise-to-pay (tanggal & nominal). Kirim surat penagihan PDF, minta stempel balasan via foto jika memungkinkan. Jika nominal > Rp5 juta atau sudah lewat 2 janji bayar, jadwalkan kunjungan kurir/collector (bawa form berita acara).
- H+21 (opsional untuk nominal besar): Kunjungan singkat 10–15 menit, bawa rekap invoice, tawarkan cicilan 2–3 kali dengan DP 40% bila perlu. Catat hasilnya di sistem.
- H+30: Stop kredit otomatis. Semua order baru di-hold. Kirim pemberitahuan resmi: opsi pelunasan atau skema cicilan tertulis. Jika disepakati, ubah terms ke COD untuk 3 siklus berikutnya. Anda boleh menetapkan denda telat 1%/bulan (jelas tertulis di awal agar fair).
- Pembagian tugas: 1 admin AR efektif menangani ±50 pelanggan aktif. Gunakan kalender tugas dan template WA/email supaya konsisten. Semua janji bayar dicatat, beserta bukti kirim pesan/rekaman panggilan bila perlu.
4) Catat pembayaran dengan benar supaya AR aging selalu akurat
Seringkali uangnya sudah masuk, tapi piutangnya belum “kena” di sistem. Hasilnya, keputusan jadi salah. Rapikan dengan disiplin berikut:
- Rekonsiliasi harian: Cocokkan mutasi bank setiap hari kerja, setor tunai 100% (jangan tahan di laci). Bukti bayar diarsip (foto struk, PDF transfer).
- Alokasikan ke invoice spesifik: Pilih pelanggan → pilih invoice → masukkan nominal. Jika bayar sebagian, catat sisa dengan tepat. Hindari “open credit” tanpa tujuan.
- Biaya bank dan selisih: Potong fee admin (posting ke akun biaya bank), dan buat credit note/debit note untuk selisih > Rp50 ribu. Selisih kecil boleh dibukukan ke akun pembulatan.
- Retur barang: Jangan netting manual. Buat sales return → terbitkan credit note → alokasikan ke invoice terkait. Stok otomatis bertambah kembali.
- Kebijakan hapus buku: Tagihan >120 hari tanpa respon masuk allowance cadangan piutang tak tertagih (2–3% dari saldo piutang berisiko per bulan). Hapus buku hanya dengan persetujuan pemilik/finansial.
- Monitor KPI: DSO = Piutang Rata-rata / Penjualan Harian. Target realistis distributor UMKM: DSO < 35 hari, dan kolektibilitas bucket 0–30 hari > 90%.
5) Review mingguan dan insentif yang sejalan (biar nggak jebol lagi)
- Rapat Senin 09.00: Tampilkan Top 20 pelanggan overdue >14 hari, nilai, siapa PIC, status janji bayar, dan langkah minggu ini. Putuskan rute kunjungan collector untuk 3–5 pelanggan kunci.
- Komisi sales: Cairkan komisi setelah invoice lunas atau maksimal 30 hari. Ini menggeser perilaku: sales peduli kualitas penjualan, bukan sekadar volume.
- Batas pengecualian: Setujui override kredit maksimal 1x/bulan per pelanggan, tercatat alasannya. Lewat itu, balik ke COD atau DP 30%.
- Mitigasi risiko: Untuk pelanggan baru/tinggi risiko, minta DP 20–30% atau deposit rolling setara 1 minggu pembelian.
Bagaimana Marlin membantu (tanpa perlu tim IT)
Di Marlin, Anda bisa mengatur limit kredit dan terms per pelanggan langsung di master pelanggan. Aktifkan Credit Check sehingga penjualan di POS/Sales Order otomatis On Hold bila melewati limit atau ada invoice overdue. Atur juga supervisor PIN untuk override terbatas, dan blokir terbitnya Delivery Order kalau status belum rilis. Praktis: contoh skenario “overdue > 7 hari hold, > 30 hari block” bisa diset sebagai aturan.
SOP 7-14-30 bisa dijalankan dari CRM dan Keuangan di Marlin: simpan kontak PIC bayar, kirim pengingat WA/email dengan template, catat promise-to-pay, dan lihat AR Aging per bucket (0–7, 8–14, 15–30, 31–60, 61+). Pembayaran yang masuk dapat di-match ke invoice, termasuk partial, biaya admin bank, retur (credit note), hingga rekonsiliasi mutasi bank harian. Semuanya terhubung ke laporan Laba Rugi dan Neraca. Jadi, tim kecil pun bisa menekan piutang macet sambil penjualan tetap jalan.